2,4 Ton Sampah Berhasil Diangkat dari Kali Tebu Surabaya, Bukti Trash Barrier Mulai Dibutuhkan Kota Besar

by | May 13, 2026 | Artikel | 0 comments

Sungai di kota besar sering dianggap hanya sebagai aliran air biasa. Padahal, saat musim hujan datang, banyak sungai justru berubah menjadi jalur utama distribusi sampah menuju laut.

Hal itu kembali terlihat di Kali Tebu Surabaya.

Dalam proses evakuasi yang dilakukan selama dua hari, Yayasan Konservasi Lahan Basah Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama relawan dan mahasiswa berhasil mengangkat lebih dari 2,4 ton sampah plastik dari aliran sungai tersebut.

Data ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah sungai bukan lagi masalah kecil, terutama di kawasan perkotaan dengan kepadatan aktivitas domestik yang tinggi.

Evakuasi Sampah Kali Tebu Surabaya Capai Lebih dari 2,4 Ton

Berdasarkan laporan Suara Surabaya, proses evakuasi dilakukan oleh tim Mission for Zero Plastic Leakage (Mozaik) Ecoton bersama relawan dan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) serta Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA).

Pada hari kedua evakuasi, tim berhasil mengangkat sekitar 1.016 kilogram sampah atau sekitar 80 karung. Sebelumnya, pada hari pertama, jumlah sampah yang berhasil diangkut mencapai 1.435,1 kilogram atau sekitar 103 karung.

Jika digabungkan, total sampah yang berhasil dievakuasi dalam dua hari mencapai lebih dari 2,4 ton.

Dokumentasi lapangan terkait proses evakuasi juga dibagikan melalui Facebook Reel.

Apa Itu Trash Barrier?

Dalam proses penanganan sampah tersebut, tim menggunakan sistem trash barrier atau penyekat sampah apung yang dipasang di aliran sungai.

Trash barrier berfungsi untuk menahan sampah terapung yang terbawa arus agar tidak terus bergerak menuju hilir atau laut. Sampah yang tersangkut kemudian diarahkan ke titik pengumpulan sehingga lebih mudah diangkat dan dipilah.

Sistem seperti ini mulai banyak digunakan dalam proyek pengendalian sampah sungai, kawasan drainase, kanal perkotaan, hingga area pesisir.

Secara sederhana, trash barrier bekerja sebagai penghalang terapung yang membantu memperlambat laju sampah di permukaan air tanpa menghambat aliran sungai secara total.

Kenapa Sampah Sungai Selalu Berakhir di Laut?

Indonesia merupakan negara maritim dengan ribuan sungai yang langsung bermuara ke laut. Ketika sistem pengelolaan sampah di daratan tidak berjalan optimal, sungai menjadi jalur tercepat penyebaran limbah plastik.

Saat curah hujan meningkat, sampah dari kawasan permukiman, pasar, hingga drainase kota akan terbawa arus menuju sungai utama. Sampah tersebut kemudian bergerak menuju hilir dan akhirnya mencemari kawasan pesisir maupun laut terbuka.

Kondisi seperti ini tidak hanya memengaruhi kebersihan lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap ekosistem laut, aktivitas nelayan, kawasan wisata air, hingga sistem drainase perkotaan.

Karena itu, sistem pengendalian sampah terapung mulai dianggap penting, terutama di kota-kota besar dengan tingkat kepadatan tinggi.

Trash Barrier Mulai Menjadi Solusi Pengendalian Sampah Sungai

Dalam keterangannya, Ecoton menyebut trash barrier di Kali Tebu rencananya akan dipasang secara permanen.

Langkah ini menunjukkan bahwa penyekat sampah apung mulai dipandang bukan sekadar alat tambahan, tetapi bagian penting dari sistem pengendalian sampah sungai.

Selain membantu proses evakuasi, pemasangan trash barrier juga membantu monitoring volume sampah yang mengalir di sungai. Sistem ini membuat proses pemilahan dan pengangkutan menjadi lebih terarah karena sampah terkumpul pada satu titik tertentu.

Di berbagai negara, model seperti ini mulai diterapkan sebagai bagian dari program river cleanup dan pengendalian marine debris untuk mengurangi sampah yang berakhir di laut.

Sistem Penyekat Sampah Apung untuk Sungai dan Kawasan Perairan

Saat ini, penggunaan penyekat sampah apung atau floating trash barrier mulai berkembang untuk berbagai kebutuhan, mulai dari sungai perkotaan, drainase industri, kanal, kawasan pelabuhan, hingga area pesisir dan wisata air.

Material yang digunakan umumnya dirancang agar mampu menghadapi perubahan arus dan kondisi perairan tertentu sehingga sistem tetap stabil saat digunakan dalam jangka panjang.

Berbagai model sistem penyekat sampah apung untuk kebutuhan sungai maupun kawasan marine dapat dilihat melalui kategori berikut:

Penyekat Sampah Apung / Trash Barrier TokoMarine

Kenapa Kota Besar Mulai Membutuhkan Trash Barrier?

Volume sampah yang berhasil diangkat dari Kali Tebu Surabaya menunjukkan bahwa persoalan sampah sungai sebenarnya dapat terlihat dengan jelas ketika sistem pengendalian dipasang.

Dalam dua hari saja, lebih dari 2,4 ton sampah berhasil tertahan sebelum mengalir lebih jauh menuju laut.

Hal ini menjadi gambaran bahwa sungai perkotaan membutuhkan lebih dari sekadar program pembersihan rutin. Dibutuhkan juga sistem yang mampu mengendalikan laju sampah secara langsung di aliran air.

Karena itu, penggunaan trash barrier diperkirakan akan semakin banyak dibutuhkan di masa depan, terutama pada kawasan dengan tingkat aktivitas domestik dan drainase yang tinggi.

FAQ Tentang Trash Barrier

Apa itu trash barrier?

Trash barrier adalah sistem penghalang terapung yang digunakan untuk menahan sampah di permukaan air agar tidak terbawa arus menuju hilir atau laut.

Bagaimana cara kerja trash barrier?

Trash barrier bekerja dengan memperlambat dan mengarahkan sampah terapung ke titik pengumpulan sehingga proses pengangkatan sampah menjadi lebih mudah.

Apakah trash barrier cocok untuk sungai perkotaan?

Sistem ini banyak digunakan pada sungai perkotaan, kanal, drainase, hingga kawasan pesisir yang memiliki volume sampah terapung tinggi.

Apa manfaat pemasangan penyekat sampah apung?

Pemasangan trash barrier membantu pengendalian sampah sungai, mengurangi sampah menuju laut, mempermudah proses pembersihan, serta membantu monitoring volume limbah terapung di perairan.

Apa bedanya trash barrier dan oil boom?

Trash barrier digunakan untuk menahan sampah terapung, sedangkan oil boom lebih difokuskan untuk pengendalian tumpahan minyak di perairan.

Product categories